IATPI bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menggelar _Emission Measurement to Improve Sanitation (Emisi) Technical Webinar Series 1_ pada 13 Desember 2025. Webinar ini membahas metodologi pengukuran emisi gas rumah kaca (GRK) dari sistem sanitasi setempat (SPALD-S) dan terpusat (SPALD-T).

 

Narasumber pertama Ir. Nopa Dwi Maulidiany, S.T., M.T., Ph.D., IPU (Dosen UI dan Tim EMISI) memaparkan bahwa sektor air limbah menyumbang sekitar 5 persen dari emisi global metana. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 34 kali lebih besar dibanding karbon dioksida, sementara dinitrogen oksida mencapai 265 kali lipat.

 

Nopa juga menyoroti target dan komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi di sektor air limbah. Upaya pengurangan emisi di sektor air limbah adalah sekitar 1,4% dari laju emisi GRK per tahunnya sekitar 6,3%, melalui pengelolaan limbah cair seperti IPAL terpusat dan pemanfaatan biogas. Berdasarkan riset Tim EMISI, emisi langsung (direct) dari sistem sanitasi, menjadi kontributor terbesar dibanding emisi operasional maupun karbon tertanam.

 

Penanggap pertama, Prof. Dr. Ing. Ir. Prayatni Soewondo, M.S. (Dosen TL ITB dan Dewan Pakar IATPI), menyampaikan bahwa riset yang dilakukan oleh tim EMISI ini sangat penting. Dengan data-data riil dihasilkan dapat digunakan untuk menanggulangi permasalah GRK yang  berasal dari air limbah. Ia juga menekankan perlunya percepatan perbaikan permasalahan sanitasi nasional serta keterlibatan aktif akademisi dan praktisi lingkungan.

 

Sesi teknis dilanjutkan dengan pemaparan dari Akna Mumtaz Ilmi mengenai pengukuran GRK pada sistem setempat (SPALD-S) menggunakan flux chamber untuk mengukur kadar CH4, CO2 dan N2O, disertai prosedur pengambilan sampel air dan lumpur dengan standar keselamatan tinggi.
Selanjutnya Fayza Ardani menjelaskan metode pengukuran emisi IPAL dan IPLT yang mencakup sampling air dan lumpur serta pengukuran metana dan N2O.

 

Ketua Umum IATPI, Endra S. Atmawidjaja, S.T., M.Sc., DEA., IPU dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengukuran emisi GRK merupakan bagian penting dari pengendalian dan evaluasi kinerja sebuah infrastruktur. Menurutnya, data emisi tidak hanya menunjukkan besaran emisi GRK, tetapi juga menjadi feedback untuk menilai efektivitas proses, melakukan redesaain dan memastikan sistem dapat beroperasi secara berkelanjutan.

 

Penanggap kedua, Arieza Akbary Trieputra (IATPI), menyampaikan bahwa emisi tidak hanya berasal dari proses tetapi juga berasal dari penggunaan energi pada instalasi, seperti pompa dan pencahayaan. Ia berharap data-data dari tim EMISI dapat segera diaplikasikan pada model pengelolaan air limbah yang ada. 

 

Webinar ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan terkait emisi, khususnya dari sektor sanitasi, dapat semakin meningkat.

Share this post on: